Disertasi

Pengembangan Situational Judgement Test (SJT) sebagai Bagian Pembelajaran Kompetensi Profesionalisme Medis dalam Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Bedah di Indonesia = Development of a Situational Judgment Test (SJT) as Part of Medical Professionalism Competency Learning in General Surgery Residency in Indonesia.

Profesionalisme medis merupakan kompetensi inti yang wajib dimiliki setiap dokter, termasuk dokter spesialis bedah, sebagai dasar moral dan perilaku profesional dalam menjamin keselamatan pasien serta mutu pelayanan medis. Namun, pelanggaran disiplin dan perilaku tidak profesional masih sering terjadi pada praktik bedah di Indonesia, yang menunjukkan perlunya penguatan pembelajaran profesionalisme di tingkat pendidikan dokter spesialis. Tantangan utama pembelajaran ini berasal dari pengaruh sosial budaya Indonesia yang khas dan keterbatasan metode asesmen yang mampu menilai dimensi nonkognitif secara valid dan bermakna.Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi nilai-nilai profesionalisme dokter bedah Indonesia, mengembangkan dan menguji validitas serta reliabilitas Situational Judgement Test (SJT), serta menilai dampak penerapan SJT terhadap pembelajaran profesionalisme melalui refleksi tertulis dan umpan balik. Penelitian dilakukan dalam tiga tahap. Tahap pertama menggunakan pendekatan fenomenologi kualitatif melalui wawancara mendalam terhadap berbagai pemangku kepentingan (dokter bedah, perawat kamar operasi, pasien, manajemen rumah sakit, dan Kolegium Ilmu Bedah Indonesia). Analisis tematik menghasilkan delapan tema dan 37 subtema profesionalisme dokter bedah Indonesia, termasuk nilai-nilai yang khas seperti kreativitas dalam menghadapi keterbatasan sumber daya, kebijaksanaan dalam mengelola masalah pribadi dan keluarga, kejujuran dalam menentukan prioritas dan tarif operasi, serta fleksibilitas terhadap perbedaan sistem dan kondisi kerja. Tahap kedua adalah pengembangan instrumen SJT berdasarkan hasil kualitatif, melalui penyusunan blueprint, penulisan skenario dilematik, dan validasi oleh panel ahli. Hasil menunjukkan 26 skenario dengan Content Validity Index >0,80 dan reliabilitas Kendall’s W sebesar 0.24. Tahap ketiga berupa penelitian kuasi-eksperimen dengan desain pretest–posttest terhadap peserta pendidikan spesialis bedah di tiga pusat pendidikan. Peserta menjalani SJT, menerima umpan balik individual dan kelompok, serta menulis refleksi sebanyak empat kali. Hasil menunjukkan adanya peningkatan skor SJT yang bermakna setelah intervensi (p < 0,05), dan adanya peningkatan reliabilitas Kendall’s W dari 0.38 menjadi 0,52, yang menandakan efektivitas SJT sebagai asesmen profesionalisme. Namun, analisis korelasi menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna antara peningkatan kedalaman refleksi tertulis dan peningkatan skor SJT (r = 0,059; p = 0,703). Temuan ini menunjukkan bahwa refleksi dan SJT mengukur dua aspek berbeda dari profesionalisme: refleksi menilai kedalaman pemaknaan pengalaman profesional, sedangkan SJT menilai kecenderungan pengambilan keputusan dalam konteks dilematik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa nilai-nilai profesionalisme dokter bedah Indonesia mencerminkan kombinasi nilai universal dan konteks budaya lokal. Instrumen SJT yang dikembangkan terbukti valid, reliabel, dan efektif sebagai asesmen formatif. Meskipun tidak berkorelasi langsung dengan kemampuan refleksi, kombinasi keduanya berperan komplementer dalam memperkuat pembelajaran dan pembentukan identitas profesional dokter bedah, serta berkontribusi terhadap peningkatan mutu pendidikan kedokteran spesialis di Indonesia.
Kata kunci: dokter spesialis bedah, identitas profesional, pendidikan kedokteran, profesionalisme medis, refleksi tertulis, Situational Judgement Test, umpan balik


Medical professionalism is a core competency essential for all physicians, including surgeons, serving as the moral and behavioral foundation that ensures patient safety and quality of care. However, disciplinary violations and unprofessional conduct remain prevalent among surgeons in Indonesia, underscoring the need to strengthen professionalism training during surgical residency. The main challenges arise from Indonesia’s sociocultural context and the limited availability of valid assessment tools for noncognitive dimensions.This study aimed to identify the professionalism values of Indonesian surgeons, to develop and test the validity and reliability of a culturally contextualized Situational Judgement Test (SJT), and to evaluate its effect on professionalism learning through reflective writing and structured feedback. The research consisted of three phases. The first phase was a qualitative phenomenological study involving multiple stakeholders (surgeons, operating room nurses, patients, hospital administrators, and representatives of the Indonesian College of Surgery). Thematic analysis identified eight themes and 37 subthemes of professionalism, including uniquely Indonesian values such as creativity in managing surgical problems within limited resources, wisdom in balancing personal and family life, honesty in determining surgical priorities and fees, and adaptability to diverse institutional contexts. The second phase involved developing an SJT instrument through blueprinting, scenario writing, and expert validation. The final version consisted of 26 scenarios with a Content Validity Index exceeding 0.80 and Kendall’s coefficient of concordance (W) 0.24. The third phase applied a quasi-experimental pretest–posttest design involving surgical residents from three accredited training centers, who completed the SJT, received feedback, and engaged in four cycles of reflective writing. Results showed a statistically significant improvement in SJT scores after the intervention (p < 0.05), improved Kendall’s coefficient of concordance (W) from 0.38 to 0.52, confirming SJT’s effectiveness as a learning and assessment tool. However, correlation analysis indicated no significant relationship between improvement in reflective-writing depth and SJT scores (r = 0.059; p = 0.703). This finding suggests that reflection and SJT assess different dimensions of professionalism: reflection captures cognitive and affective awareness, while SJT assesses situational decision-making tendencies. In conclusion, the professionalism values of Indonesian surgeons combine universal medical ethics with culturally contextual dimensions. The developed SJT proved valid, reliable, and effective as a formative assessment for professionalism. Although not directly correlated with reflection outcomes, both SJT and reflective writing play complementary roles in fostering professional identity and improving the quality of postgraduate medical education in Indonesia.
Keywords: feedback, medical education, medical professionalism, reflective writing, professional identity, Situational Judgement Test, surgical residents

Judul Seri
-
Tahun Terbit
2025
Pengarang

Daniel Ardian Soeselo - Nama Orang
Ardi Findyartini - Nama Orang
Diantha Soemantri - Nama Orang

No. Panggil
D25048fk
Penerbit
Jakarta : Program Doktor Ilmu Kedokteran.,
Deskripsi Fisik
xx, 227 hlm., 21 x 30 cm
Bahasa
Indonesia
ISBN/ISSN
SBP Online
Klasifikasi
-
Edisi
-
Subjek
Info Detail Spesifik
Tanpa Hardcopy
D25048fkD25048fkPerpustakaan FKUITersedia - File Digital
Image of Pengembangan Situational Judgement Test (SJT) sebagai Bagian Pembelajaran Kompetensi Profesionalisme Medis dalam Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Bedah di Indonesia = Development of a Situational Judgment Test (SJT) as Part of Medical Professionalism Competency Learning in General Surgery Residency in Indonesia.

Related Collection


WhatsApp

Halo Sobat Medi 👋

Ada pertanyaan atau hal yang bisa kami bantu?

Layanan WA Perpustakaan FKUI
Senin - Jumat 08.00 - 16.00 WIB
Pesan yang masuk di luar waktu operasional (di atas) akan direspon pada hari kerja berikutnya.