Tesis
Perubahan Ukuran Massa Tumor Kanker Serviks Stadium IIB – IIIC Pasca Terapi Radiasi Dosis 20-30 Gy Sebagai Faktor Prediktor Respons Terapi Radiasi.
Latar Belakang: Kanker serviks merupakan penyebab kematian nomor 4 pada wanita di dunia. Di Indonesia, insidensinya mencapai 9,2% dengan tingkat kematian yang tinggi. Pasien di RSCM paling banyak ditemukan pada stadium lanjut (IIB-IIIB). Radioterapi (EBRT dan brakiterapi) adalah tatalaksana utama untuk stadium ini. Evaluasi rutin dengan MRI biasanya baru dilakukan 3 bulan pasca terapi selesai. Penelitian ini bertujuan menilai apakah pemeriksaan MRI lebih dini (saat dosis 20-30 Gy) dapat memprediksi keberhasilan respons terapi akhir. Methods: Studi kohort retrospektif dengan uji deskriptif analitik. Pasien kanker serviks stadium IIB–IIIC di RSCM yang menjalani EBRT dan brakiterapi. Total sampel sebanyak 35 subjek. Variabel utama adalah ukuran massa tumor awal, perubahan ukuran massa tumor pasca radiasi 20-30 Gy, dan respons akhir terapi berdasarkan kriteria RECIST 1.1 (Complete Response, Partial Response, Stable Disease, Progressive Disease). Analisis data menggunakan uji statistik bivariat dengan angka kemaknaan p < 0.05, serta regresi logistik untuk analisis multivariat. Results: Rerata usia subjek adalah 52 tahun. Mayoritas subjek memiliki ukuran tumor awal > 4 cm (82,9%) dan tipe histopatologi Karsinoma Sel Skuamosa (82,9%). Pasien dengan penurunan ukuran massa tumor ≥ 22% (EBRT Regression Baik) cenderung mendapatkan Good Response (respons akhir baik), meski secara statistik nilai p (0.091) menunjukkan tren namun belum signifikan pada sampel ini. Pasien dengan stadium IIB-IIIB tanpa keterlibatan kelenjar getah bening memiliki kemungkinan 2,7 kali lebih tinggi untuk mencapai Good Response dibanding stadium IIIC. Ukuran tumor awal ≤ 4 cm memberikan peluang 1,4 kali lebih tinggi untuk respons yang baik. Tipe histopatologi adenokarsinoma cenderung memiliki prognosis lebih buruk dibandingkan karsinoma sel skuamosa. Conclusion: Pemeriksaan pencitraan MRI pada pertengahan siklus (dosis 20-30 Gy) memiliki potensi sebagai faktor prediktor untuk menilai keberhasilan terapi radiasi pada pasien kanker serviks stadium lanjut. Faktor seperti stadium FIGO 2018, ukuran tumor awal, dan tipe histopatologi tetap menjadi indikator penting dalam menentukan prognosis pasien.
Keywords: kanker serviks, terapi radiasi, ukuran massa tumor
Latar Belakang: Kanker serviks merupakan penyebab kematian nomor 4 pada wanita di dunia. Di Indonesia, insidensinya mencapai 9,2% dengan tingkat kematian yang tinggi. Pasien di RSCM paling banyak ditemukan pada stadium lanjut (IIB-IIIB). Radioterapi (EBRT dan brakiterapi) adalah tatalaksana utama untuk stadium ini. Evaluasi rutin dengan MRI biasanya baru dilakukan 3 bulan pasca terapi selesai. Penelitian ini bertujuan menilai apakah pemeriksaan MRI lebih dini (saat dosis 20-30 Gy) dapat memprediksi keberhasilan respons terapi akhir. Methods: Studi kohort retrospektif dengan uji deskriptif analitik. Pasien kanker serviks stadium IIB–IIIC di RSCM yang menjalani EBRT dan brakiterapi. Total sampel sebanyak 35 subjek. Variabel utama adalah ukuran massa tumor awal, perubahan ukuran massa tumor pasca radiasi 20-30 Gy, dan respons akhir terapi berdasarkan kriteria RECIST 1.1 (Complete Response, Partial Response, Stable Disease, Progressive Disease). Analisis data menggunakan uji statistik bivariat dengan angka kemaknaan p < 0.05, serta regresi logistik untuk analisis multivariat. Results: Rerata usia subjek adalah 52 tahun. Mayoritas subjek memiliki ukuran tumor awal > 4 cm (82,9%) dan tipe histopatologi Karsinoma Sel Skuamosa (82,9%). Pasien dengan penurunan ukuran massa tumor ≥ 22% (EBRT Regression Baik) cenderung mendapatkan Good Response (respons akhir baik), meski secara statistik nilai p (0.091) menunjukkan tren namun belum signifikan pada sampel ini. Pasien dengan stadium IIB-IIIB tanpa keterlibatan kelenjar getah bening memiliki kemungkinan 2,7 kali lebih tinggi untuk mencapai Good Response dibanding stadium IIIC. Ukuran tumor awal ≤ 4 cm memberikan peluang 1,4 kali lebih tinggi untuk respons yang baik. Tipe histopatologi adenokarsinoma cenderung memiliki prognosis lebih buruk dibandingkan karsinoma sel skuamosa. Conclusion: Pemeriksaan pencitraan MRI pada pertengahan siklus (dosis 20-30 Gy) memiliki potensi sebagai faktor prediktor untuk menilai keberhasilan terapi radiasi pada pasien kanker serviks stadium lanjut. Faktor seperti stadium FIGO 2018, ukuran tumor awal, dan tipe histopatologi tetap menjadi indikator penting dalam menentukan prognosis pasien.
Keywords: kanker serviks, terapi radiasi, ukuran massa tumor
- Judul Seri
-
-
- Tahun Terbit
-
2025
- Pengarang
-
Bryan Christian - Nama Orang
Tricia Dewi Anggraeni - Nama Orang
Fitriyadi Kusuma - Nama Orang
Trifonia Pingkan Siregar - Nama Orang - No. Panggil
-
T25612fk
- Penerbit
- Jakarta : Program Studi Obstetri dan Ginekologi., 2025
- Deskripsi Fisik
-
xiii, 55 hlm. ; 21 x 30 cm
- Bahasa
-
Indonesia
- ISBN/ISSN
-
-
- Klasifikasi
-
T25
- Edisi
-
-
- Subjek
- Info Detail Spesifik
-
Tanpa Hardcopy
| T25612fk | T25612fk | Perpustakaan FKUI | Tersedia - File Digital |
Masuk ke area anggota untuk memberikan review tentang koleksi