Tesis
Socio-Economic and Demographic Determinants of Ultra-Processed FoodConsumption and Nutrient Intake Among Reproductive-Aged Women ofMinangkabau and Sundanese Ethnicities = Faktor Risiko Sosial Ekonomi dan Demografi pada Konsumsi UltraProcessed Food dan Asupan Gizi Wanita Usia Subur Suku Minang danSunda.
The modernization and nutrition transition leading to diverse food options, including ultraprocessed foods (UPF). These foods are typically industrially produced, contain additives withminimal whole ingredients. Previous studies found potentially adverse health effects on highUPF intake that were more prevalent in women of reproductive age (WRA). Indonesia havediverse ethnic groups like Minangkabau and Sundanese, exhibits varied dietary habits. Researchis necessary to understand the determinants influencing UPF consumption and its nutrient intakeprofile among WRA from two ethnic communities This cross-sectional study used secondarydata from 341 WRA Minangkabau and Sundanese women in West Sumatera and West Java in2016. Food intake in the previous month was assessed using a semi-quantitative food frequencyquestionnaire (SQ-FFQ). Statistical analyses included binary logistic regression to identifyhigher UPF consumption determinants and Mann-Whitney test to assess nutrient intake betweenlower and higher UPF consumption groups. Population UPF consumption averaged 8.1%. Aftercontrolling for other variables, the determinants influencing higher UPF intake were age,ethnicity, and geographic area. The adjusted odds ratio (aOR) for age 19–35 was 1.85 (95% CI:1.1–3.0) compared to age 36–49. The aOR for the Sundanese ethnic group was 2.74 (95% CI:1.54–4.86) compared to the Minangkabau ethnic group, and the aOR for living in highland areaswas 1.89 (95% CI: 1.13–3.18) compared to coastal regions (p < 0.05). The highest UPFconsumption quartile group had higher calorie, fat, sodium, saturated fatty acid, and sugar intakecompared to lower UPF consumers (p < 0.05).Age, ethnicity, and geographic area are the significant determinants for higher UPF intake,suggesting targeted preventive efforts based on population characteristics are necessary forfuture interventions. UPF intake among subjects in the highest quartile shows significant nutrientdifferences compared to lower UPF consumers were observed.
Keyword: Ultra-processed foods, determinant, SQ-FFQ, NOVA food classification, nutrientintake, women of reproductive age
Modernisasi dan transisi gizi mengarah pada beragam pilihan makanan, termasuk makanan ultraolahan (UPF). Makanan ini umumnya diproduksi secara industri, mengandung bahan tambahandengan sedikit bahan alami. Studi sebelumnya menemukan potensi efek negatif bagi kesehatandari konsumsi UPF tinggi yang lebih umum terjadi pada wanita usia subur (WUS). Indonesiamemiliki beragam kelompok etnis seperti Minangkabau dan Sunda, yang menunjukkankebiasaan diet yang berbeda. Penelitian diperlukan untuk memahami determinan konsumsi UPFdan asupan nutrisinya pada WUS dari dua komunitas etnis. Studi potong lintang dilakukanmenggunakan data sekunder dari 341 WUS etnis Minangkabau dan Sunda di Sumatera Barat danJawa Barat pada tahun 2016. Asupan makanan dalam sebulan terakhir dinilai menggunakansemi-quantitative food frequency questionnaire (SQ-FFQ). Analisis statistik meliputi regresilogistik biner untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi konsumsi UPF dan ujiMann-Whitney untuk menilai asupan nutrisi antara kelompok konsumsi UPF yang lebih rendahdan lebih tinggi. Rata-rata konsumsi UPF di populasi adalah 8,1%. Setelah mengontrol variabellain, faktor yang memengaruhi konsumsi UPF lebih tinggi adalah usia, etnis, dan daerahgeografis. Nilai adjusted odds ratio (aOR) untuk usia 19–35 adalah 1,85 (95% CI: 1,1 –3,0)dibandingkan dengan usia 36–49. Nilai aOR untuk kelompok etnis Sunda adalah 2,74 (95% CI:1,54–4,86) dibandingkan dengan kelompok etnis Minangkabau, dan aOR untuk area geografistempat tinggal di pegunungan adalah 1,89 (95% CI: 1,13–3,18) dibandingkan dengan daerahpesisir (p < 0,05). Kelompok kuartil konsumsi UPF tertinggi memiliki asupan kalori, lemak,natrium, asam lemak jenuh, dan gula yang lebih tinggi dibandingkan dengan konsumen UPFyang lebih rendah (p < 0,05). Usia, etnis, dan daerah geografis merupakan faktor signifikan untukkonsumsi UPF yang lebih tinggi. Hasil ini menunjukan perlunya upaya preventif berdasarkankarakteristik populasi. Konsumsi UPF pada subjek dalam kelompok kuartil tertinggimenunjukkan perbedaan nutrisi yang signifikan dibandingkan dengan konsumen UPF rendah.
Kata kunci: Ultra-processed foods, determinan, SQ-FFQ, klasifikasi makananan NOVA, asupannutrient, wanita usia subur
- Judul Seri
-
-
- Tahun Terbit
-
2024
- Pengarang
-
Dhani Latifani - Nama Orang
Rina Agustina - Nama Orang
Dicky L. Tahapary - Nama Orang
Dyana Santika - Nama Orang - No. Panggil
-
T24656fk
- Penerbit
- Jakarta : Master of Nutrition Study Program., 2024
- Deskripsi Fisik
-
xv, 108 hlm. ; 21 x 30 cm
- Bahasa
-
English
- ISBN/ISSN
-
-
- Klasifikasi
-
T24
- Edisi
-
-
- Subjek
- Info Detail Spesifik
-
Tanpa Hardcopy
| T24656fk | T24656fk | Perpustakaan FKUI | Tersedia - File Digital |
Masuk ke area anggota untuk memberikan review tentang koleksi