Tesis
Korelasi antara Indeks Massa Otot dan Gejala Depresi pada Pasien Lanjut Usia di Poliklinik Geriatri Rumah Sakit Ciptomangunkusumo = Correlation between Skeletal Muscle Index and Depression Symptoms in Elderly Patients at Geriatric Policlinic Cipto Mangunkusumo National General Hospital.
Latar Belakang: Penuaan menyebabkan lansia rentan mengalami berbagai masalah psikologis, salah satunya depresi, yang dapat berkontribusi terhadap luaran klinis yang buruk. Seiring bertambahnya usia, massa otot menurun dengan cepat pada usia lanjut. Penurunan massa otot dan gejala depresi memiliki beberapa faktor risiko yang sama. Hingga saat ini belum terdapat penelitian yang menilai hubungan antara indeks massa otot dan gejala depresi pada populasi lansia di Indonesia. Metode: Penelitian ini merupakan studi potong lintang pada 60 pasien lansia (usia 60-80 tahun) yang berkunjung ke poliklinik geriatri di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Pemeriksaan indeks massa otot dilakukan dengan menggunakan BIA, sedangkan penilaian gejala depresi menggunakan instrumen Geriatric Depression Scale (GDS). Korelasi indeks massa otot dan gejala depresi dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil: Dari total 60 subjek, didapatkan rerata indeks massa otot subjek penelitian 6,76±1,36 kg/m2 dan gejala depresi berdasarkan GDS 2 (0-5). Analisis bivariat menunjukkan terdapat korelasi negatifyang signifikan antara indeks massa otot dan gejala depresi dengan kekuatan korelasi sedang (r=-0,432, p=0,001). Kesimpulan: Terdapat korelasi negatif yang signifikan antara indeks massa otot dan gejala depresi pada pasien lanjut usia di poliklinik geriatri, yang menunjukkan bahwa semakin rendah indeks massa otot, maka semakin tinggi gejala depresi.
Kata kunci: gejala depresi, indeks massa otot, lansia, poliklinik
Background: Aging increases vulnerability to various psychological problems in older adults, including depression, which can contribute to poor clinical outcomes. With advancing age, muscle mass progressively declines. Low muscle mass and depressive symptoms share several common risk factors. However, no research has investigated the association between skeletal muscle index and depressive symptoms in older adults population in Indonesia. Methods: A cross-sectional study was conducted among 60 older adults aged 60± 80 years at the geriatric outpatient clinic of Cipto Mangunkusumo National General Hospital. Skeletal muscle index was measured using BIA and depressive symptoms were assessed using the Geriatric Depression Scale (GDS). Correlation analysis ZDVSHUIRUPHGXVLQJ6SHDUPDQ¶VWHVW Results: The mean skeletal muscle index was 6.76±1.36 kg/m², and the median GDS score was 2 (0±5). Bivariate analysis showed a significant moderate correlation between skeletal muscle index and depressive symptoms (r=-0.432, p =0.001). Conclusion: A significant negative correlation was observed between skeletal muscle index and depressive symptoms in older adults attending a geriatric outpatient clinic, suggesting that lower muscle mass is associated with increased depressive symptoms.
Keywords: depressive symptoms, skeletal muscle index, elderly, outpatient clinic.
- Judul Seri
-
-
- Tahun Terbit
-
2025
- Pengarang
-
Anita Janetthe Apriyanti G - Nama Orang
Diana Sunardi - Nama Orang
Profitasari Kusumaningrum - Nama Orang - No. Panggil
-
T25551fk
- Penerbit
- Jakarta : Program Pendidikan Dokter Spesialis-1 Program Studi Ilmu Gizi Klinik., 2025
- Deskripsi Fisik
-
xvii, 101 hlm. ; 21 x 30 cm
- Bahasa
-
Indonesia
- ISBN/ISSN
-
SBP Online
- Klasifikasi
-
T25
- Edisi
-
-
- Subjek
- Info Detail Spesifik
-
Tanpa Hardcopy
| T25551fk | T25551fk | Perpustakaan FKUI | Tersedia - File Digital |
Masuk ke area anggota untuk memberikan review tentang koleksi