Tesis

Angka Kejadian Onikomikosis, Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian, dan Identifikasi Spesies Penyebab di Poliklinik Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo = Prevalence of Onychomycosis, Associated Factors, and Identification of Causative Species at the Dermatology and Venereology Clinic of Cipto Mangunkusumo Hospital.

Pendahuluan: Onikomikosis adalah infeksi jamur pada kuku yang disebabkan oleh dermatofita, kapang nondermatofita (KND), dan ragi. Pemastian diagnosis dan patogen penyebab perlu dilakukan sebelum memulai pemberian obat antijamur. Tujuan: Mengetahui angka kejadian onikomikosis, menilai faktor yang berhubungan dengan kejadiannya, dan mengidentifikasi spesies jamur penyebab. Metode: Penelitian potong lintang ini dilakukan di Poliklinik Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) pada Mei hingga September 2025. Pasien dengan kecurigaan onikomikosis menjalani pemeriksaan kalium hidroksida (KOH) dan biakan jamur. Identifikasi spesies dilakukan menggunakan Matrix-assisted laser desorption ionization-time of flight mass spectroscopy (MALDI-TOF MS). Diagnosis onikomikosis ditegakkan berdasarkan kriteria English dan kriteria Gupta. Data karakteristik sosiodemografi dan klinis, faktor yang berhubungan (trauam kuku, diabetes melitus, kondisi imunosupresi, kebisaan kontak air), serta spesies jamur penyebab dikumpulkan dalam penelitian ini. Hasil: Dari 54 pasien yang diduga mengalami onikomikosis, 46 pasien (85,2%) terkonfirmasi mengalami penyakit ini. Rerata usia pasien adalah 53 ± 13,9 tahun dan 34 pasien (63%) berjenis kelamin perempuan. Onikomikosis subungual distal dan lateral (OSDL) merupakan gambaran klinis yang paling sering ditemukan (78,3%). Patogen penyebab onikomikosis terdiri dari ragi (69,6%), KND (17,4%), infeksi campuran (8,8%), dan dermatofita (4,4%). Spesies jamur yang paling sering ditemukan adalah Candida parapsilosis (26,1%). Kebiasaan kontak air berhubungan bermakna dengan kejadian onikomikosis (aOR 10,89; IK 95% 1,23–96,07; p=0,032), sedangkan trauma kuku, diabetes melitus, dan kondisi imunosupresi tidak menunjukkan hubungan bermakna. Simpulan: Angka kejadian onikomikosis pada penelitian ini tinggi, dengan spesies penyebab tersering adalah Candida parapsilosis. Hanya kebiasaan kontak air yang berhubungan dengan kejadian onikomikosis. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar untuk mengembangkan strategi pencegahan dan terapi onikomikosis.
Kata kunci: Biakan, Candida, Kalium hidroksida, MALDI-TOF MS, Onikomikosis


Background: Onychomycosis is a fungal infection of the nails caused by dermatophytes, nondermatophyte molds (NDM), and yeasts. Confirmatory testing and identification of the causative organism are required before initiating antifungal therapy. Aim: To determine the prevalence of onychomycosis, evaluate factors associated with its occurrence, and identify the causative fungal species. Method: This cross-sectional study was conducted at the Dermatology and Venereology Clinic Cipto Mangunkusumo Hospital (RSCM) from May to September 2025. Patients with clinically suspected onychomycosis underwent potassium hydroxide (KOH) examination and fungal culture. Species identification was performed using matrixassisted laser desorption ionization–time of flight mass spectrometry (MALDI-TOF MS). Onychomycosis was diagnosed based on the English and Gupta criteria. Data on sociodemographic and clinical characteristics, associated factors (nail trauma, diabetes, immunosuppressive conditions, and water contact), and causative fungal species were collected in this study. Results: Among 54 patients evaluated for suspected onychomycosis, 46 patients (85,2%) were confirmed to have the infection. The mean age of patients was 53 ± 13.9 years and 34 patients (63%) were female. Distal lateral subungual onychomycosis (DLSO) was the most common clinical presentation (78.3%). The causative organisms included yeasts (69.6%), NDM (17.4%), mixed infections (8.6%), and dermatophytes (4.4%) The most commonly isolated species was Candida parapsilosis (26.1%). Water contact was significantly associated with onychomycosis (aOR 10.89; 95% CI 1.23–96.07; p=0.032), whereas nail trauma, diabetes, and immunosuppressive conditions showed no significant association. Conclusion: The prevalence of onychomycosis in this study was high, with Candida parapsilosis identified as the predominant causative species. Water contact was the only factor significantly associated with onychomycosis. These findings may serve as a basis for developing preventive and therapeutic strategies for onychomycosis.
Keywords: Candida, Culture, MALDI-TOF MS, Onychomycosis, Potassium hydroxide

Judul Seri
-
Tahun Terbit
2025
Pengarang

Valerie Andrea - Nama Orang
Eliza Miranda - Nama Orang
Mardiastuti H. Wahid - Nama Orang
Marsen Isbayuputra - Nama Orang
Dewi Lestarini - Nama Orang

No. Panggil
T25524fk
Penerbit
Jakarta : Program Pendidikan Dokter Spesialis Dermatologi dan Venerologi.,
Deskripsi Fisik
xvii, 94 hlm. ; 21 x 30 cm
Bahasa
Indonesia
ISBN/ISSN
SBP Online
Klasifikasi
T25
Edisi
-
Subjek
Info Detail Spesifik
Tanpa Hardcopy
T25524fkT25524fkPerpustakaan FKUITersedia - File Digital
Image of Angka Kejadian Onikomikosis, Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian, dan Identifikasi Spesies Penyebab di Poliklinik Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo = Prevalence of Onychomycosis, Associated Factors, and Identification of Causative Species at the Dermatology and Venereology Clinic of Cipto Mangunkusumo Hospital.

Related Collection


WhatsApp

Halo Sobat Medi 👋

Ada pertanyaan atau hal yang bisa kami bantu?

Layanan WA Perpustakaan FKUI
Senin - Jumat 08.00 - 16.00 WIB
Pesan yang masuk di luar waktu operasional (di atas) akan direspon pada hari kerja berikutnya.