Tesis

Hubungan Antara Otoendoskopi dan Gambaran Radiologis Dengan Audiometri Nada Murni Preoperatif Pasien OMSK Tipe Aman Tenang di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

Latar belakang: Otitis media supuratif kronik (OMSK) sering menyebabkan gangguan pendengaran. Peran temuan otoendoskopi, radiologis, dan faktor klinis terhadap ambang dengar dan air–bone gap (ABG) masih beragam. Tujuan: Menilai hubungan faktor klinis, pemeriksaan otoendoskopi, dan temuan HRCT mastoid dengan ambang dengar serta ABG pada OMSK. Metode: Studi cross sectional pada pasien OMSK tipe aman menggunakan data sekunder dari penelitian sebelumnya. Analisis dilakukan dengan uji komparatif sesuai distribusi data dan regresi linear multivariat Hasil: Ukuran/lokasi perforasi MT tidak berasosiasi bermakna dengan ambang dengar maupun ABG. Timpanosklerosis berkaitan dengan ambang dengar lebih tinggi (p < 0,001) dan ABG lebih besar (p = 0,002). Perselubungan kavum timpani dan aerasi mastoid sklerotik berhubungan dengan ambang dengar lebih buruk (p < 0,001 Kekambuhan ≥ 3 kali/tahun berkaitan dengan ambang dengar lebih buruk (p < 0,001) dan ABG lebih lebar (p < 0,001). Durasi OMSK ≥ 5 tahun berhubungan dengan ambang dengar lebih tinggi daripada < 5 tahun (p < 0,001). Kesimpulan: Pada pasien OMSK tipe aman, perselubungan kavum timpani, timpanosklerosis, kekambuhan, dan durasi penyakit merupakan faktor yang paling memengaruhi penurunan pendengaran.


Background: Chronic suppurative otitis media (CSOM) frequently causes hearing loss. The contributions of otoendoscopic findings, radiologic features, and clinical factors to hearing thresholds and the air–bone gap (ABG) remain heterogeneous. Objective: To assess the associations of clinical factors, otoendoscopic examination, and HRCT findings with hearing thresholds and ABG in CSOM. Methods: A crosssectional study of safe-type CSOM using secondary data from a previous study. Analyses included comparative tests according to data distribution and multivariable linear regression. Results: The size and location of tympanic membrane perforation was not significantly associated with hearing loss or ABG. Tympanosclerosis was associated with higher hearing thresholds (p < 0.001) and a larger ABG (p = 0.002). Middle-ear cavity opacification and sclerotic mastoid aeration were associated with poorer hearing thresholds (p < 0.001). Recurrence ≥3 times/year was related to worse thresholds (p < 0.001) and a wider ABG (p < 0.001). Disease duration ≥ 5 years was associated with higher thresholds (p < 0.001). Conclusion: In safe-type CSOM, middle-ear opacification, tympanosclerosis, recurrence, and disease duration are the main factors associated with hearing deterioration.

Judul Seri
-
Tahun Terbit
2025
Pengarang

Putri Balqis - Nama Orang
Harim Priyono - Nama Orang
Ratna Dwi Restuti - Nama Orang

No. Panggil
T25523fk
Penerbit
Jakarta : Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher.,
Deskripsi Fisik
xxii, 104 hlm., 21 x 30 cm
Bahasa
Indonesia
ISBN/ISSN
SBP Online
Klasifikasi
T25
Edisi
-
Subjek
Info Detail Spesifik
Tanpa Hardcopy
T25523fkT25523fkPerpustakaan FKUITersedia - File Digital
Image of Hubungan Antara Otoendoskopi dan Gambaran Radiologis Dengan Audiometri Nada Murni Preoperatif Pasien OMSK Tipe Aman Tenang di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

Related Collection


WhatsApp

Halo Sobat Medi 👋

Ada pertanyaan atau hal yang bisa kami bantu?

Layanan WA Perpustakaan FKUI
Senin - Jumat 08.00 - 16.00 WIB
Pesan yang masuk di luar waktu operasional (di atas) akan direspon pada hari kerja berikutnya.