Skripsi

Prevalensi Mata Kering di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Kirana = Dry Eye Prevalence in Dr Cipto Mangunkusumo Kirana National General Hospital.

Latar Belakang Mata kering merupakan suatu kondisi pada permukaan okular yang bersifat multifaktorial. Mata kering merupakan penyakit yang rumit, kurang terdiagnosis, dan sangat berdampak terhadap kesehatan pasien. Dikarenakan keterbatasan data yang dilaporkan di Indonesia, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi serta faktor risiko yang berhubungan dengan tingkat keparahan mata kering di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Kirana. Metode Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional yang menggunakan data retrospekif dari rekam medis pasien pada periode 1 Januari 2024–31 Desember 2024. Analisis data dilakukan menggunakan software SPSS. Analisis hubungan variabel faktor risiko kategorik dilakukan dengan uji Chi-square atau Fisher’s Exact Test. Analisis hubungan variabel faktor risiko usia (numerik) dilakukan dengan uji Mann-Whitney U. Hasil Terdapat 341 subjek penelitian dengan diagnosis mata kering. Prevalensi mata kering berdasarkan kode H04.1 adalah 2,54% dengan 92,1% subjek mengalami tingkat keparahan Sedang-Berat. Pada kelompok ringan, keluhan yang paling banyak ditemukan adalah sensasi benda asing (37%), tipe dry eye terbanyak adalah EDE, median TBUT adalah 7 detik, dan median Schirmer adalah 12,5 mm. Pada kelompok Sedang-Berat, Keluhan yang paling banyak ditemukan adalah penglihatan buram (25,5%), tipe dry eye terbanyak adalah ADDE, median TBUT 4 detik, dan median Schirmer 5 mm. Pola terbanyak dalam pemeriksaan FBUP pada kedua kelompok adalah line break. Ditemukan hubungan yang signifikan antara kondisi kesehatan mental dengan tingkat keparahan mata kering (p= 0,036). Kesimpulan Prevalensi dry eye yang dihitung berdasarkan kode ICD-10 H04.1 di RSCM Kirana pada tahun 2024 adalah 2,54%. Sebagian besar pasien mengalami mata kering Sedang-Berat dan didominasi oleh perempuan dan usia paruh baya-tua. Secara keseluruhan, tipe dry eye yang paling banyak ditemukan di RSCM Kirana adalah ADDE. Median TBUT dan hasil Schirmer yang kecil yang mencerminkan proporsi tingkat keparahan sampel pasien pada penelitian dalam setting tersier ini. Ditemukan hubungan yang signifikan antara kondisi kesehatan mental dengan tingkat keparahan mata kering.
Kata Kunci: Faktor Risiko, Klasifikasi, Mata Kering, Prevalensi, Tingkat Keparahan


Introduction Dry eye is a multifactorial condition affecting the ocular surface. Dry eye is a complex, underdiagnosed disease that has a substantial impact on patient’s health. Due to the limited data reported in Indonesia, this study aims to determine the prevalence and risk factors associated with the severity of dry eye at Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Kirana. Method This study is a descriptive-analytic cross-sectional study using retrospective data of patients’ medical record from January 1 st to December 31 st 2024 period. Data was analyzed using SPSS. To explore association between the risk factor variables, Chisquare test or Fisher’s Exact Test were used. The association between age and severity was analyzed using Mann-Whitney U test. Results A total of 341 research subjects with diagnosis of dry eye were included. The prevalence of dry eye was counted based on the H04.1 code was 2,54% with 92,1% subject experienced moderate–severe dry eye. In the mild group, the most common symptoms were foreign body sensation (37%), the most common dry eye type was EDE, with a median TBUT of 7 seconds and Schirmer value of 12.5 mm. In the moderate–severe group, the most common symptoms were blurred vision (25.5%), the most common type of dry eye was ADDE, with a median TBUT of 4 seconds and Schirmer value of 5 mm. The most common break-up pattern found in both groups was line break. A significant association was found between mental health status and the severity of dry eye (p= 0.036). Conclusion Dry eye prevalence based on the H04.1 code at RSCM Kirana in 2024 was 2,54%. Most patients presented with moderate to severe dry eye and were predominantly female and middle-aged to elderly. The most common type of dry eye found was ADDE. The low TBUT and Schirmer median value reflected the severity of the patient sample in this tertiary setting study. A significant association was found between mental health status and the severity of dry eye.
Keywords: Dry eye, Classification, Prevalence, Risk Factors, Severity

Judul Seri
-
Tahun Terbit
2025
Pengarang

Alicia Donna Christy - Nama Orang
Rina Ladistia Nora - Nama Orang

No. Panggil
S25109fk
Penerbit
Jakarta : Program Pendidikan Dokter Umum S1 Reguler.,
Deskripsi Fisik
xv, 74 hlm. ; 21 x 30 cm
Bahasa
Indonesia
ISBN/ISSN
SBP Online
Klasifikasi
NONE
Edisi
-
Subjek
Info Detail Spesifik
-
S25109fkS25109fkPerpustakaan FKUITersedia - File Digital
Image of Prevalensi Mata Kering di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Kirana = Dry Eye Prevalence in Dr Cipto Mangunkusumo Kirana National General Hospital.

Related Collection


WhatsApp

Halo Sobat Medi 👋

Ada pertanyaan atau hal yang bisa kami bantu?

Layanan WA Perpustakaan FKUI
Senin - Jumat 08.00 - 16.00 WIB
Pesan yang masuk di luar waktu operasional (di atas) akan direspon pada hari kerja berikutnya.