Skripsi
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Putus Obat pada Pasien TB Resistan Obat Sebelum dan Selama Pandemi Covid-19 di RSUP Persahabatan = Factors Influencing Treatment Default Among Drug-Resistant Tuberculosis Patients Before and During the Covid-19 Pandemic at Persahabatan General Hospital.
Latar Belakang Tuberkulosis resistan obat (TB RO) memerlukan pengobatan jangka panjang dengan kepatuhan tinggi. Selama pandemi COVID-19, gangguan layanan kesehatan memperburuk risiko putus obat pada pasien TB RO. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi kejadian putus obat pada pasien TB RO di RSUP Persahabatan sebelum dan selama pandemi. Metode Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif dengan data rekam medis pasien TB RO tahun 2018–2019 (sebelum pandemi) dan 2022–2023 (selama pandemi). Sampel diambil menggunakan teknik systematic random sampling. Analisis bivariat dilakukan untuk mengidentifikasi hubungan antara berbagai faktor dengan kejadian putus obat. Hasil Dari 48 pasien yang memenuhi kriteria, tingkat putus obat sebelum pandemi adalah 25% dan selama pandemi adalah 12,5%. Faktor paling utama yang menjadi alasan putus obat sebelum pandemi covid-19 adalah efek samping obatnya keras. Faktor paling utama yang menjadi alasan putus obat selama pandemi covid-19 adalah efek samping obatnya keras, terlalu sibuk kerja, jumlah obat terlalu banyak, sosioekonomi, dan terlewat. Variabel seperti usia, jenis kelamin, dan status perkawinan tidak menunjukkan hubungan signifikan secara statistik. Kesimpulan Gangguan layanan kesehatan selama pandemi tidak meningkatkan kejadian putus obat, tetapi berbagai faktor individual tetap menjadi tantangan dalam pengobatan TB RO. Intervensi yang lebih terarah diperlukan untuk meningkatkan kepatuhan pasien terhadap pengobatan.
Kata Kunci: Pandemi Covid-19, putus obat, TB RO
Introduction Drug-resistant tuberculosis (DR-TB) requires prolonged treatment with strict adherence. During the COVID-19 pandemic, healthcare disruptions increased the risk of treatment discontinuation among DR-TB patients. This study aims to identify factors influencing treatment default among DR-TB patients at Persahabatan General Hospital before and during the pandemic. Method A retrospective cohort study design was employed using medical records of DR-TB patients from 2018–2019 (pre-pandemic) and 2022–2023 (during the pandemic). Samples were selected through systematic random sampling. Bivariate analysis was conducted to identify the association between various factors and treatment default. Results Among the 48 patients meeting the criteria, the treatment default rate was 25% before the pandemic and 12.5% during the pandemic. The primary reason for treatment default before the COVID-19 pandemic was the severe side effects of the medication. During the pandemic, the main reasons for treatment default included severe side effects, being too busy with work, an excessive number of medications, socioeconomic factors, and forgetting to take medication. Variables such as age, gender, and marital status showed no statistically significant associations. Conclusion While healthcare disruptions during the pandemic did not increase default rates, individual factors remained challenging in managing DR-TB treatment. Targeted interventions are needed to enhance patient adherence.
Keywords: Covid-19 pandemic, drug-resistant tuberculosis, treatment default
- Judul Seri
-
-
- Tahun Terbit
-
2024
- Pengarang
-
Kenzi Naufaldi Muhammad - Nama Orang
Fathiyah Isbaniah - Nama Orang - No. Panggil
-
S24182fk
- Penerbit
- Jakarta : Program Pendidikan Dokter Umum S1 Reguler., 2024
- Deskripsi Fisik
-
xiv, 51 hlm., ; 21 x 30 cm
- Bahasa
-
Indonesia
- ISBN/ISSN
-
SBP Online
- Klasifikasi
-
NONE
- Edisi
-
-
- Subjek
- Info Detail Spesifik
-
-
| S24182fk | S24182fk | Perpustakaan FKUI | Tersedia - File Digital |
Masuk ke area anggota untuk memberikan review tentang koleksi