Tesis
Pengaruh Teknik Rekonstruksi Anterior Cruciate Ligament Menggunakan Tandur Tendon Peroneus Longus dibandingkan dengan Hamstring terhadap Terjadinya Anterior Knee Pain: Evaluasi Klinis dan Radiologis di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo dan Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati Tahun 2024-2025 = The Effect of Anterior Cruciate Ligament Reconstruction Technique Using Peroneus Longus Tendon Graft Compared to Hamstring Graft on the Occurrence of Anterior Knee Pain: Clinical and Radiological Evaluation in Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo and Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati Year 2024 – 2025.
Latar Belakang: Cedera pada anterior cruciate ligament (ACL) merupakan salah satu cedera ligament lutut yang paling umum di bidang orthopaedi. Rekonstruksi ACL merupakan baku emas tatalaksana yang semakin popular karena tingginya permintaan dan kebutuhan pasien untuk kembali beraktivitas olahraga. Rekonstruksi ACL sudah mengalami banyak evolusi dengan berbagai penggunaan tandur tendon. Meski demikian, komplikasi anterior knee pain (AKP) masih menjadi masalah dengan prevalensi 2,7 – 20%. Pada awalnya, tandur bone-patella tendon-bone (BPTB) memiliki sifat mekanik dan luaran klinis yang baik, tetapi pengambilan tandur yang invasif membuat morbiditas tersendiri pada situs donor dan meningkatkan risiko AKP. Tandur hamstring (HT) menjadi alternatif namun pengambilan tandur ini diduga dapat mengubah biomekanika lutut. Tandur peroneus longus (PL) menjadi pilihan alternatif baru karena potensi dan sifat mekaniknya serta lokasinya yang extra-genicular dianggap tidak mengganggu biomekanika lutut dan, karenanya, menurunkan risiko AKP. Meski demikian, belum banyak studi yang mengevaluasi AKP pada rekonstruksi ACL menggunakan tandur PL dengan tandur lainnya. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi secara klinis dan radiologis serta variabel yang berhubungan dengan AKP pasca-operasi antara rekonstruksi ACL menggunakan tandur PL dan HT. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental sebenarnya pre-post study design dengan kontrol. Sampel penelitian adalah pasien operasi rekonstruksi ACL di RSUPN Cipto Mangunkusumo dan RSUP Fatmawati pada Oktober 2024 – Februari 2025 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Sampel dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok yang menggunakan tandur PL dan kelompok yang menggunakan tandur HT. Kejadian AKP pada kedua kelompok akan dievaluasi secara klinis dengan skor Kujala dan radiologis dengan MRI saat pra-operasi dan 6 bulan pasca-operasi serta dicari prevalensi. Data statistik dianalisis menggunakan SPSS for Macintosh v. 26. Hasil: Terdapat 23 sampel tandur PL dan 19 sampel tandur HT yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Uji statistik menunjukkan tidak ada perbedaan karakteristik demografis yang signifikan di antara kedua kelompok. Kelompok tandur PL memiliki kejadian AKP sejumlah 2 (9%) dan kelompok tandur HT sejumlah 6 (32%). Uji statistik menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelompok tandur PL dan tandur HT (p = 0,06). Meski demikian, kelompok tandur HT memiliki risiko AKP lebih besar dibanding kelompok tandur PL (OR 4,8; 95% CI 0,8 – 27,8 vs OR 0,2; 95% CI 0,03 – 1,2). Evaluasi MRI pasca-operasi menunjukkan perbedaan Axial Patellofemoral Engagement Index (AEI) di mana kelompok tandur PL memiliki indeks yang lebih tinggi dibandingkan HT (median 0,85 vs 0,80; p = 0,02) dan adanya perbedaan perubahan Sagittal Patellofemoral Engagement Index (SPE) di mana kelompok tandur HT memiliki perubahan nilai SPE pra-operasi–pasca-operasi lebih besar dibandingkan hamstring (median -0.04 vs 0.00, p = 0.02) . Tidak terdapat perbedaan skor Kujala pasca-operasi antara kedua kelompok (p = 0,30). Kesimpulan: Kelompok yang menggunakan tandur PL memiliki AEI pasca-operasi yang signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan tandur HT, sedangkan tandur HTmemberikan pengurangan SPE yang signifikan lebih tinggi dibandingkan tandur PL. Dalam studi ini juga ditemukan bahwa kecenderungan AKP pasca-operasi terjadi lebih tinggi pada kelompok yang menggunakan tandur HT dibandingkan PL.
Kata Kunci: rekonstruksi ACL, tandur peroneus longus, tandur hamstring, anterior knee pain
Background: Anterior cruciate ligament (ACL) injury is one of the most common knee injuries in orthopaedics. ACL reconstruction is considered as the gold standard treatment because of increasing demand and need for patients to return to sport activities. ACL reconstruction has been having a lot of evolutions in using various tendon grafts. However, anterior knee pain (AKP) still remains a common complication with prevalence 2,7 – 20%. Bone-patella tendon-bone (BPTB) initially had favorable mechanical properties and clinical outcome, but its invasive harvesting technique increases donor site morbidity and risk of AKP. Hamstring graft (HT) became an alternative but its harvesting alters knee biomechanics. Peroneus longus (PL) graft has appeared as promising option because of its mechanical strength and its location which is not in the knee joint, which lower the risk of AKP. However, there are still limited studies that evaluate AKP in ACL reconstruction using PL graft and other grafts. This study evaluates and compare AKP clinically and radiologically, as well as to recognize related variables, following ACL reconstruction using PL versus HT grafts. Methods: This was a true experimental study with pre-post study design with control group. Samples are patients undergoing ACL reconstruction at RSUPN Cipto Mangunkusumo and RSUP Fatmawati from October 2024 to October 2025 who met inclusion and exclusion criteria. Samples were divided into two groups which were those receiving PL grafts and those receiving HT grafts. The incidence of AKP was evaluated clinically with Kujala score and radiologically with MRI preoperatively and 6 months postoperatively. Statistical analysis was performed with SPSS for Macintosh v. 26. Results: Total of 23 patients in PL group and 19 patients in HT group were included. Statistical analysis showed no significant differences in demographic characteristics between these two groups. AKP occurred in 2 patients (9%) in the PL group and 6 patients (32%) in the HT group. Even though the difference was not statistically significant (p = 0.06), the HT group had a higher risk of AKP (OR 4.8; 95% CI: 0.8–27.8) compared to the PL group (OR 0.2; 95% CI: 0.03–1.2). Postoperative MRI evaluation showed a significant difference in Axial Patellofemoral Engagement Index (AEI) with PL group had a higher median index (0,85 vs 0,80; p = 0,02). Higher decrement of pre-postoperative Sagittal Patellofemoral Engagement Index (SPE) is also observed as HT group had significantly higher median decrement (median -0.04 vs 0.00, p = 0.02). There were no significant differences in Kujala score between the two groups (p = 0,30). Conclusion: Group with PL graft showed a significantly higher postoperative AEI compared to group with HT graft whereas group with HT graft shows significantly higher decrement of SPE. This study also implies that there is tendency that HT graft may cause higher occurence of AKP compared to PL graft.
Keywords: ACL reconstruction, peroneus longus graft, hamstring graft, anterior knee pain
- Judul Seri
-
-
- Tahun Terbit
-
2025
- Pengarang
-
Herjuno Ardhi - Nama Orang
Ludwig Andribert Powantia Pontoh - Nama Orang
Andri Maruli Tua Lubis - Nama Orang
Marcel Prasetyo - Nama Orang - No. Panggil
-
T25469fk
- Penerbit
- Jakarta : Sp-2 Program Studi Ilmu Orthopaedi dan Traumatologi., 2025
- Deskripsi Fisik
-
xviii, 66 hlm., ; 21 x 30 cm
- Bahasa
-
Indonesia
- ISBN/ISSN
-
SBP Online
- Klasifikasi
-
T25
- Edisi
-
-
- Subjek
- Info Detail Spesifik
-
Tanpa Hardcopy
| T25469fk | T25469fk | Perpustakaan FKUI | Tersedia - File Digital |
Masuk ke area anggota untuk memberikan review tentang koleksi