Tesis
Podosin, Nefrin dan Rasio Podosin-Nefrin Urin sebagai Prediktor Penurunan Laju Filtrasi Glomerulus dan Peningkatan Albuminuria pada Pasien Penyakit Ginjal Diabetik: Pengamatan Satu Tahun = Urinary Podocin, Nephrin, and Podocin–Nephrin RatioLevels as Predictors of Decline in Glomerular Filtration Rate and Increase in Albuminuria over One Year Observation in Patients with Diabetic Kidney Disease.
Latar Belakang: Penyakit ginjal diabetik (PGD) merupakan komplikasi utama diabetes melitus (DM) dan penyebab dominan penyakit ginjal kronik (PGK). Tantangan klinis saat ini adalah deteksi dini dan stratifikasi risiko progresi penyakit. Podosin dan nefrin, sebagai komponen kunci slit diaphragm glomerulus, serta rasio podosin-nefrin (PNR), telah diusulkan sebagai biomarker urin untuk mendeteksi cedera glomerulus dan memprediksi perjalanan penyakit. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi nilai prediktif kadar podosin urin, nefrin urin, dan rasio podosin-nefrin terhadap progresi PGD, yaitu penurunan eLFG ≥5 mL/menit/1,73 m² atau peningkatan uACR ≥30% dari nilai awal. Metode: Studi kohort retrospektif ini melibatkan pasien PGD yang diikuti selama 12 bulan. Pada awal studi, dikumpulkan data klinis, kadar HbA1c, profil lipid, eLFG, uACR, serta kadar podosin dan nefrin urin. Progresi PGD didefinisikan sebagai penurunan eLFG ≥5 mL/menit/1,73 m² dan/atau peningkatan uACR ≥ 30% dari nilai awal. Analisis prediktif dilakukan menggunakan kurva ROC untuk menghitung area under the curve (AUC). Hasil: Sebanyak 119 subjek (median usia 59 tahun; 53,8% perempuan) diikutsertakan. Median kadar podosin urin awal adalah 0,51 ng/mL, nefrin urin 42 ng/mL, dan PNR 0,014. Setelah 12 bulan, 36,5% pasien mengalami penurunan eLFG, sedangkan 32,7% menunjukkan peningkatan albuminuria. Nilai AUC podosin, nefrin, dan PNR terhadap penurunan eLFG masing-masing adalah 0,504, 0,512, dan 0,523, sedangkan terhadap peningkatan uACR masing-masing adalah 0,563, 0,524, dan 0,544. Simpulan: Kadar podosin, nefrin, dan PNR urin belum menunjukkan kemampuan prediktif signifikan terhadap progresi PGD dalam periode 12 bulan. Meski demikian, biomarker ini tetap berpotensi sebagai indikator diagnostik cedera podosit pada PGD yang telah berkembang. Penelitian lanjutan dengan sampel lebih besar dan durasi lebih panjang diperlukan untuk memvalidasi nilai prognostiknya.
Kata kunci: Penyakit ginjal diabetik, podosin, nefrin, rasio podosin-nefrin, biomarker, albuminuria, eLFG
Background: Diabetic kidney disease (DKD) is a major complication of diabetes mellitus (DM) and a leading cause of chronic kidney disease (CKD). A current clinical challenge is the early detection and risk stratification of disease progression. Podocin and nephrin, as key components of the glomerular slit diaphragm, along with the podocin–nephrin ratio (PNR), have been proposed as urinary biomarkers for detecting glomerular injury and predicting disease course. Objectives: This study aimed to evaluate the predictive value of urinary podocin, urinary nephrin, and the PNR for DKD progression, defined as an eGFR decline ≥5 mL/min/1.73 m² or a uACR increase ≥30% from baseline. Methods: This retrospective cohort study involved DKD patients followed for 12 months. Baseline data collected included clinical characteristics, HbA1c, lipid profile, eGFR, uACR, and urinary podocin and nephrin levels. DKD progression was defined as an eGFR decline ≥5 mL/min/1.73 m² and/or a uACR increase ≥30% from baseline. Predictive analysis was performed using ROC curves to calculate the area under the curve (AUC). Results: A total of 119 subjects (median age 59 years; 53.8% female) were included. Median baseline urinary podocin was 0.51 ng/mL, urinary nephrin 42 ng/mL, and PNR 0.014. After 12 months, 36.5% of patients experienced an eGFR decline, while 32.7% showed increased albuminuria. The AUC values of podocin, nephrin, and PNR for predicting eGFR decline were 0.504, 0.512, and 0.523, respectively, while for increased uACR they were 0.563, 0.524, and 0.544, respectively. Conclusions: Urinary podocin, nephrin, and PNR did not demonstrate significant predictive ability for DKD progression over a 12-month period. Nevertheless, these biomarkers remain potential diagnostic indicators of podocyte injury in established DKD. Further studies with larger sample sizes and longer follow-up are warranted to validate their prognostic value.
Keywords: Diabetic kidney disease, podocin, nephrin, podocin-nephrin ratio, biomarkers, albuminuria, eGFR
- Judul Seri
-
-
- Tahun Terbit
-
2025
- Pengarang
-
Jeremia Immanuel Siregar - Nama Orang
Pringgodigdo Nugroho - Nama Orang
TRI Juli Edi Tarigan - Nama Orang
Kuntjoro Harimurti - Nama Orang - No. Panggil
-
T25393fk
- Penerbit
- Jakarta : Sp-2 Ilmu Penyakit Dalam., 2025
- Deskripsi Fisik
-
xxiv, 103 hlm., 21 x 30 cm
- Bahasa
-
Indonesia
- ISBN/ISSN
-
SBP Online
- Klasifikasi
-
T25
- Edisi
-
-
- Subjek
- Info Detail Spesifik
-
Tanpa Hardcopy
| T25393fk | T25393fk | Perpustakaan FKUI | Tersedia - File Digital |
Masuk ke area anggota untuk memberikan review tentang koleksi