Skripsi

The influence of body fat on the risk of polycystic ovary syndrome: anthropometric parameters

Objective: To evaluate the relationship between anthropometric measurements (upper-arm circumference, waist circumference, body weight, body height and BMI) and risk of each factors to the incidence of PCOS in reproductive age women. Design: Cross-sectional study. Patient(s): Seventy-two Indonesian women with mean of age 29.37 ± 3.72 and come to Klinik Yasmin Cipto Mangunkusumo hospital, Jakarta with the complain of infertility and/or irregular menstrual cycle. Main Outcome Measure(s): Prevalence and odds ratio of the parameters to incidence of PCOS. Result(s): Overall, PCOS women have a higher score in all parameters. In terms of risk, the higher the score in BMI and waist circumference, the higher the risk of developing PCOS. The most significant are the waist circumference, with cut of point of 80cm, women with waist circumference of > 80cm would 4 times likely to have PCOS compare to < 80cm (p < 0.05). The BMI parameter, although did not show any statistically significant associations, the trend has shown an increase risk with increase BMI score as well. Conclusion(s): An increase BMI does show a significance increase to the risk of PCOS, statistically. Unlike previous study, this study has shown that the measurement of BMI is not well turned-out in determining the risk of PCOS. On the other hand, waist circumference is somewhat more reliable and does show significant result in determining the risk of PCOS. Key Words: Polcystic ovary syndrome, obesity, body fat, anthropometry parrmeter(s), body weight, waist circumference, BMI.



Tujuan: Untuk mengevaluasi hubungan antara pengukuran antropometri (lingkar lengan atas, lingkar pinggang, berat badan, tinggi badan dan index massa tubuh (IMT)) dan risiko dari setiap faktor terhadap kejadian Sindroma Polisitik Ovari (SPO) pada wanita usia reproduksi. Metode penelitian: Cross-sectional. Subjek: Tujuh puluh dua wanita Indonesia dengan rerata umur 29,37 ± 3,72, datang ke rumah sakit Klinik Yasmin Cipto Mangunkusumo, Jakarta dengan keluhan infertilitas dan / atau siklus haid tidak teratur. Ukuran Hasil Utama: Prevalensi dan odds ratio parameter untuk kejadian SPO. Hasil: Secara keseluruhan, perempuan SPO memiliki angka yang lebih tinggi di semua parameter. Dalam hal risiko, semakin tinggi nilai IMT dan lingkar pinggang, semakin tinggi risiko terbentuknya SPO. Hasil tersignifikan didapatkan dari lingkar pinggang, dengan titik tolak ukur 80cm, perempuan dengan lingkar pinggang 80cm > akan 4 kali cenderung memiliki SPO dibandingkan dengan < 80cm (p < 0,05). Parameter IMT, meskipun tidak menunjukkan asosiasi signifikan secara statistik, kecenderungan menunjukkan peningkatan risiko dengan peningkatan skor IMT. Kesimpulan: Peningkatan IMT tidak menunjukkan kecenderungan untuk meningkatkan risiko SPO yang signifikan secara statistik. Berbeda dengan studi sebelumnya, studi ini menunjukkan bahwa pengukuran IMT tidak cukup baik dalam menentukan risiko SPO. Di sisi lain, lingkar pinggang lebih dapat diandalkan serta menunjukkan hasil yang signifikan dalam menentukan risiko PCOS.
Kata kunci: sindrom polisitik ovari, obesitas, lemak tubuh, parrmeter antropometri, berat badan, lingkar pinggang, IMT.

Judul Seri
-
Tahun Terbit
2010
Pengarang

Anissa Nindhyatriayu Witjaksono - Nama Orang
Andon Hestiantoro - Nama Orang

No. Panggil
S10210fk
Penerbit
Jakarta : Program Pendidikan Dokter Umum S1 KKI.,
Deskripsi Fisik
ix, 34 lembar; il., 30 cm, lamp. 1
Bahasa
English
ISBN/ISSN
-
Klasifikasi
S10210fk
Edisi
-
Subjek
Info Detail Spesifik
-
S10210fkS10210fkPerpustakaan FKUITersedia - File Digital
Image of The influence of body fat on the risk of polycystic ovary syndrome: anthropometric parameters

Related Collection


WhatsApp

Halo Sobat Medi 👋

Ada pertanyaan atau hal yang bisa kami bantu?

Layanan WA Perpustakaan FKUI
Senin - Jumat 08.00 - 16.00 WIB
Pesan yang masuk di luar waktu operasional (di atas) akan direspon pada hari kerja berikutnya.